Pintar untuk Menyikapi Valentine Day


KASIH SAYANG SEPANJANG MASA

by: Rahmat Abu Bassam

Beranda Pringsewu | Setiap bulan februari kita diingatkan oleh sebuah hari yang disebut dengan “valentine day” yang tepatnya jatuh pada tanggal empat belas. Media massa baik elektronik maupun cetak (majalah dan koran) begitu gencar mensosialisasikan dan mengkampanyekan hari ini, mereka mengidentikan hari ini dengan hari kasih sayang.

Tayangan-tayangan di televise menggambarkan bagaimana valentine day ini menjadi hari yang istimewa, terutama untuk kalangan muda mudi. Di hari ini para pemuda dan pemudi diajak untuk menunjukan rasa kasih sayangnya kepada pasangan masing-masing. Bentuk kasih sayang mereka disimbolkan dengan pemberian coklat kepada orang yang disayangi.

Begitu intensnya tayangan-tayangan seperti itu sehingga menjadi panutan generasi muda kita. Sampai tertanam dalam benak kita bahwa valentine day adalah hari kasih sayang yang disimbolkan dengan member coklat kepada orang yang kita sayang. Lebih dari itu, ada sebagian pemuda yang menjadikan hari tersebut menjadi hari yang istimewa. Yaitu momen untuk menyatakan cinta kepada orang yang disayangi. Mungkin kita termasuk orang-orang yang terpengaruh dengan persepsi yang ditanamkan oleh media-media tersebut.

Padahal ketika kita bertanya kepada pemuda yang ikut-ikutan merayakan valentine day, apasih valentine day? Darimana asal valentine day? Banyak dari mereka tidak dapat menjawabnya. Mereka hanya mengikuti tren, supaya dibilang gaul, supaya gak ketinggalan zaman, kata mereka. Inilah sebagian potret generasi bangsa kita, mereka melakukan sesuatu hanya ikut-ikutan tren tanpa mau tau apa sesungguhnya yang mereka ikuti. 

Mari kita pahami tentang valentine day tersebut, lalu kita boleh menentukan sikap mau ikut merayakannya atau meninggalkannya. Sejarah awal Valentine's Day bermula pada abad ke-3 M, di mana berkuasa seorang raja Roma wiber nama Claudus II Ghoticus. Dengan kekuasaannya, dia menghukum pancung seorang pendeta bernama Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 269 M. Santo Valentine dihukum pancung lantaran menikahkan seorang remaja (prajurit) muda yang tengah menjalin cinta kasih, sehingga dianggap telah menentang ketentuan kerajaan. Alasan ketentuannya, karena prajurit kerajaan yang belum menikah dianggap memiliki ketangguhan yang luar biasa di medan perang. Bagi pihak gereja, tindakan Santo Valentine tersebut dianggap benar karena telah melindungi orang yang menjalin cinta, sehingga dia dinobatkan sebagai pahlawan kasih sayang. Sehingga, tercatatlah dalam sejarah bahwa setiap tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih saying bagi umat Kristiani.

Valentine’s Day juga merupakan warisan budaya Romawi kuno, yaitu upacara pemujaan dan penyembahan kepada dua Dewa besar, Leparcus (dewa kesuburan) dan Dewa faunus (dewa alam semesta). Upacara tersebut dirayakan tepatnya pada tanggal 15 Februari, masa kekuasaan Kaisar Kontantine (280-337M). Dalam upacara tersebut, dia memberikan kesempatan kepada para remaja wanita untuk menyampaikan pesan cintanya kepada pria pujaannya. Kemudian, para remaja pria akan menerima pesan-pesan cinta tersebut. Mereka berpasang-pasangan, bernyanyi bersama, berdansa dan biasanya diakhiri dengan perbuatan amoral (coitus). Namun, pada abad ke-5 M, tepatnya tahun 494 M, oleh Paus Glasium I, upacara penyucian ini kemudian ditetapkan sebagai peringatan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day). Tanggal peringatan pun diubah menjadi setiap 14 Februari, yaitu tanggal dihukumnya pendeta Santo Valentine. Sehingga, Paus Glassium I dikenal sebagai pelopor peringatan Valentine’s Day. (diambil dari republika online, lihat http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/02/13/lz5qb9-asal-usul-valentines-day )

Demikian sekilas sejarah dari valentine day, ternyata hari ini diperingati untuk mengenang seorang pendeta bernama santo valentine. Sudah jelas bahwa hari tersebut adalah milik orang-orang kristiani. Lalu, kenapa hari tersebut juga dirayakan oleh pemuda-pemudi muslim? Padahal perayaan hari tersebut jika kita perhatikan lebih banyak sisi negative dari pada positivnya. Banyak yang merayakan hari tersebut dengan kegiatan-kegiatan maksiat. Bahkan, sampai ada yang terjerumus melakukan zina. Na’udzubillah.

Jika kita berbicara tentang kasih sayang, agama kita sejak dulu sudah menganjurkannya. Jangankan dengan sesame manusia, dengan hewan pun kita diajarkan untuk berkasih sayang. Banyak dalil-dalil yang menganjurkan kita untuk berkasih sayang. Dan kasih saying dalam agama kita adalah sepanjang masa, kasih saying terhadap keluarga, handai tolan, tetangga dan masyarakat adalah sepanjang tahun, bukan hanya tanggal empat belas Februari saja. Kita diajarkan untuk mengucapkan basmalah setiap kali akan melakukan perbuatan yang baik.

Kalimat basmalah adalah bismillahirrohmaanirrohiim, yang artinya dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita mengenal Allah yang memiliki sifat kasih dan sayang, dan kita sebagai hamba-Nya tentunya dianjurkan untuk mengikuti sifat-Nya, menjadi hamba yang penuh kasih dan sayang.

Kemudaian jika kita melihat sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, betapa kasih dan sayangnya diantara mereka. Rasulullah menjadikan kasih saying terhadap sesame sebagai tolak ukur keimanan. Dalam salah satu hadits disebutkan, “Tidaklah beriman seseorang diantara kalian, sehingga engkau mencintai saudaramu sebagai mana engkau mencintai dirimu sendiri”. Dan Rasulullah pun mencontohkan bagaimana sayangnya beliau kepada anak-anak yatim, hingga beliau mengatakan “anaabulyataamaa” saya bapaknya anak-anak yatim.

Itulah gambaran kasih saying kepada sesame manusia, sedangkan kasih saying kepada hewan pun sudah dicontohkan oleh Nabi kita, diantaranya dikisahkan ketika beliau hendak pergi ke masjid, kain sorban beliau ditiduri oleh seekor kucing. Karena khawatir membangunkan kucing tersebut, Rasulullah menggunting kain sorbannya. Kemudian dalam hadits yang lain juga disebutkan, bahwa seorang pelacur yang member minum seekor anjing yang sedang kehausan, maka Allah mengampuni dosa-dosanya. 

Betapa ajaran kasih sayang yang ada dalam agama kita begitu lengkap, tak perlu kita mengikuti ajaran yang lain. Mari kita renungkan, perlukah kita mengikuti ajaran-ajaran mereka yang non muslim sedangkan dalam agama kita sudah begitu lengkap dan sempurna? Tinggal kita berusaha memahami ajaran-ajaran kita.

Kasih sayang dalam agama kita bukan hanya pada tanggal empat belas Februari saja, namun kasih saying kita adalah sepanjang masa. Kepada sesame manusia bahkan kepada hewan dan tumbuhan yang ada di sekeliling kita.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

How to style text in Disqus comments:
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Hide Parser