Mengartikan Puisi tak Semudah Membaca Cerita Pendek


Rumah-rumah Lambang Achid B.S.
Oleh A. Mustofa Bisri

Puisi yang baik adalah puisi yang sulit dipahami. Jika Anda termasuk orang kebanyakan, jangan harap bisa mengerti puisi. Puisi yang gampang dipahami seperti koran atau pidato bukanlah sebenarnya puisi. Demikianlah anggapan atau olok-olok atau keluhan yang sering kita dengar. Atau, barangkali memang itulah yang sebenarnya. Karenanya, puisi dibanding saudaranya, prosa, menjadi “kurang laku” di masyarakat yang terdiri atas orang-orang kebanyakan melulu.

Boleh jadi, itu tak sekedar anggapan, olok-olok, atau keluhan; siapa tahu, memang demikianlah hakikat puisi yang baik itu. Sebab, puisi itu ’kan “dari sononya” merupakan citra sastra yang memang dipercaya menangkap dan mengungkap nilai-nilai yang dialami dan dirasakan manusia, karenanya, ia cenderung sangat personal. Karenanya, lambang-lambang yang dipakai juga lebih bersifat personal. Karenanya, sulit dipahami kebanyakan orang.

“Binatang jalang” Chairil Anwar, “Kapak Hitam” Sutardji Calzoum Bachri, ”Angsa” Rendra, “Benteng” Taufik Ismail”, misalnya, adalah lambang-lambang yang oleh orang kebanyakan tentu saja sulit diterka maksudnya. Mungkin karena sulit itu justru enak : orang bisa menafsirkan macam-macam. Memang, konon puisi yang baik adalah yang mampu menimbulkan berbagai tafsiran dan asosiasi emosi.

Walhasil karena puisi secara bentuk bukan prosa dan secara makna ingin lebih banyak ”bicara” mengenai “pengalaman batin” manusia melebihi prosa, lambang-lambang personal yang khas pun menjadi sangat penting.

Nah, membaca puisi-puisi Abdul Wachid B.S. alias Achid B.S. dalam kumpulan puisinya Rumah Cahaya ini, kita akan menjumpai banyak lambang khas seperti itu. Rumah-rumah yang “berdiri” di sana-sini, judul dan anak judul, adalah lambang-lambang yang menawarkan sebagai konotasi dan terbuka bagi beragam asosiasi perasaan.

Achid, penyair muda yang produktif dan berbakat ini, memang jago dalam menggunakan lambang-lambang yang tak sekedar lambang. Lambang-lambang yang mampu mewadahi, memperindah dan memperkuat isi yang ingin ditampilkannya. Bacalah, misalnya ini:

semakin aku kehilangan mimpi bunga
semakin rumah hati kosong
dari keharuman yang terjaga
…….
(sajak “Kehilangan Mimpi”)

Atau ini :

sebuah pematang lurus ke senja
ke kedalaman jiwa
di mana matahari membiaskan impian-
impian pelangi, hingga ke cakrawala
…….
(sajak “Kasidah dari Negeri Hijau Mimpi”)

Mimpi, bunga, rumah, pematang, matahari, pelangi, dan cakrawala dalam petikan dua puisi itu adalah contoh lambang-lambang yang tak begitu saja maknanya dapat kita cari di kamus. Kita harus mengikuti perjalanan kembara imaji Achid, sang Penyairnya, yang dalam kumpulannya ini memang merajalela.

Hal menarik dalam buku puisi yang menghimpun sajak-sajak awal kepenyairannya ini (1980-an, direvisi sebagian 1990-an) ini, lambang rumah dan yang “semakna” dengan rumah seperti istana, penjara, masjid, kuil, dan kubur; atau yang berkaitan dengan rumah seperti, taman, pintu, jendela, tangga, langit-langit, dan semacamnya, tampak sangat mewarnai kalau tidak mendominasi sajak-sajaknya.

Apakah ini berarti Achid sedang mendambakan kedamaian, dan sedang mencari-cari cara mendirikannya, atau sekedar cari eyupan di sana? Atau, seperti banyak pemilik nurani yang lain, dia sudah tidak sekedar terusik ketenangannya seperti oleh hingar-bingar pasar dan super-market yang penuh ular, prahara, dan petir; bulan yang pingsan di trotoar; berhala-berhala yang ditegakkan dalam hati; dan seterusnya. Tapi, sudah tersisih dalam penjara kesunyian.

Wallahua’lam.

Achid memang sedang berpuisi. Bernyanyi sendiri. Memang, penyair bila pun mengajak, paling-paling pada dirinya sendiri, setidaknya sampai saat ini.

Saya yang ingin, tapi tak bisa dan terlambat berpuisi, merasa senang, dan bersyukur menyaksikan penyair-penyair muda, seperti Abdul Wachid B.S. ini, giat dan bersungguh-sungguh merawat dengan terampil tur tatag terhadap taman sastra kita, serta menjaga nurani agar tetap jaga.

Semoga istiqomah.

Rembang, 1415.


artikel dan foto by:
Status FB Abdul Wachid Bs
23 Januari 2016 pukul 23:05

Mengartikan Puisi tak Semudah Membaca Cerita Pendek


Mengartikan Puisi tak Semudah Membaca Cerita Pendek


Rumah-rumah Lambang Achid B.S.
Oleh A. Mustofa Bisri

Puisi yang baik adalah puisi yang sulit dipahami. Jika Anda termasuk orang kebanyakan, jangan harap bisa mengerti puisi. Puisi yang gampang dipahami seperti koran atau pidato bukanlah sebenarnya puisi. Demikianlah anggapan atau olok-olok atau keluhan yang sering kita dengar. Atau, barangkali memang itulah yang sebenarnya. Karenanya, puisi dibanding saudaranya, prosa, menjadi “kurang laku” di masyarakat yang terdiri atas orang-orang kebanyakan melulu.

Boleh jadi, itu tak sekedar anggapan, olok-olok, atau keluhan; siapa tahu, memang demikianlah hakikat puisi yang baik itu. Sebab, puisi itu ’kan “dari sononya” merupakan citra sastra yang memang dipercaya menangkap dan mengungkap nilai-nilai yang dialami dan dirasakan manusia, karenanya, ia cenderung sangat personal. Karenanya, lambang-lambang yang dipakai juga lebih bersifat personal. Karenanya, sulit dipahami kebanyakan orang.

“Binatang jalang” Chairil Anwar, “Kapak Hitam” Sutardji Calzoum Bachri, ”Angsa” Rendra, “Benteng” Taufik Ismail”, misalnya, adalah lambang-lambang yang oleh orang kebanyakan tentu saja sulit diterka maksudnya. Mungkin karena sulit itu justru enak : orang bisa menafsirkan macam-macam. Memang, konon puisi yang baik adalah yang mampu menimbulkan berbagai tafsiran dan asosiasi emosi.

Walhasil karena puisi secara bentuk bukan prosa dan secara makna ingin lebih banyak ”bicara” mengenai “pengalaman batin” manusia melebihi prosa, lambang-lambang personal yang khas pun menjadi sangat penting.

Nah, membaca puisi-puisi Abdul Wachid B.S. alias Achid B.S. dalam kumpulan puisinya Rumah Cahaya ini, kita akan menjumpai banyak lambang khas seperti itu. Rumah-rumah yang “berdiri” di sana-sini, judul dan anak judul, adalah lambang-lambang yang menawarkan sebagai konotasi dan terbuka bagi beragam asosiasi perasaan.

Achid, penyair muda yang produktif dan berbakat ini, memang jago dalam menggunakan lambang-lambang yang tak sekedar lambang. Lambang-lambang yang mampu mewadahi, memperindah dan memperkuat isi yang ingin ditampilkannya. Bacalah, misalnya ini:

semakin aku kehilangan mimpi bunga
semakin rumah hati kosong
dari keharuman yang terjaga
…….
(sajak “Kehilangan Mimpi”)

Atau ini :

sebuah pematang lurus ke senja
ke kedalaman jiwa
di mana matahari membiaskan impian-
impian pelangi, hingga ke cakrawala
…….
(sajak “Kasidah dari Negeri Hijau Mimpi”)

Mimpi, bunga, rumah, pematang, matahari, pelangi, dan cakrawala dalam petikan dua puisi itu adalah contoh lambang-lambang yang tak begitu saja maknanya dapat kita cari di kamus. Kita harus mengikuti perjalanan kembara imaji Achid, sang Penyairnya, yang dalam kumpulannya ini memang merajalela.

Hal menarik dalam buku puisi yang menghimpun sajak-sajak awal kepenyairannya ini (1980-an, direvisi sebagian 1990-an) ini, lambang rumah dan yang “semakna” dengan rumah seperti istana, penjara, masjid, kuil, dan kubur; atau yang berkaitan dengan rumah seperti, taman, pintu, jendela, tangga, langit-langit, dan semacamnya, tampak sangat mewarnai kalau tidak mendominasi sajak-sajaknya.

Apakah ini berarti Achid sedang mendambakan kedamaian, dan sedang mencari-cari cara mendirikannya, atau sekedar cari eyupan di sana? Atau, seperti banyak pemilik nurani yang lain, dia sudah tidak sekedar terusik ketenangannya seperti oleh hingar-bingar pasar dan super-market yang penuh ular, prahara, dan petir; bulan yang pingsan di trotoar; berhala-berhala yang ditegakkan dalam hati; dan seterusnya. Tapi, sudah tersisih dalam penjara kesunyian.

Wallahua’lam.

Achid memang sedang berpuisi. Bernyanyi sendiri. Memang, penyair bila pun mengajak, paling-paling pada dirinya sendiri, setidaknya sampai saat ini.

Saya yang ingin, tapi tak bisa dan terlambat berpuisi, merasa senang, dan bersyukur menyaksikan penyair-penyair muda, seperti Abdul Wachid B.S. ini, giat dan bersungguh-sungguh merawat dengan terampil tur tatag terhadap taman sastra kita, serta menjaga nurani agar tetap jaga.

Semoga istiqomah.

Rembang, 1415.


artikel dan foto by:
Status FB Abdul Wachid Bs
23 Januari 2016 pukul 23:05

1 comment:

  1. Setuju gan, puisi itu maknanya tersirat dan lebih dalam

    ReplyDelete

Gunakan Komentar dengan bijak dan sesuai dengan topik yang sedang di bahas
Komentar spam dan yang mengandung SARA akan dihapus