MENGAPA KITA BERAT UNTUK MENDIRIKAN SHALAT?


MENGAPA KITA BERAT UNTUK MENDIRIKAN SHALAT?

(Rahmat Abu Bassam)

Beranda Pringsewu | Pertanyaan ini patut kita jadikan instropeksi, terutama bagi kita yang mengaku sebagai seorang muslim. Bahwa selama ini kita sering sekali merasa berat untuk mendirikan shalat. Padahal untuk mendirikan shalat yang lima waktu hanya membutuhkan kurang lebih dua puluh lima menit dari dua puluh empat jam waktu yang kita miliki dalam sehari semalam. Artinya, untuk melaksanakan satu shalat kita hanya butuh waktu lima menit. Dan dengan lima menit ini akan menentukan kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Dengan lima menit tersebut menjadi pembeda antara kita sebagai seorang muslim dengan orang-orang non muslim. Karena perbedaan antara orang muslim dengan yang bukan muslim diantaranya terletak pada pelaksanaan shalatnya. Lalu, jika ada seorang yang mengaku muslim namun tidak pernah melaksanakan shalat, apa bedanya ia dengan non muslim?

Allah SWT telah mengabarkan kepada kita akan tujuan hidup kita. Dijelaskan dalam surat Adz Dzariyaat ayat 56 bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Nya. Tujuan utama kita hidup di dunia adalah menyembah Allah SWT, beribadah kepada-Nya. Adapun berbagai sarana dan prasarana yang ada di muka bumi ini Allah sediakan untuk bekal kita dalam beribadah kepada-Nya. Jika kita sudah memahami tujuan hidup kita, tentunya kita akan lebih memprioritaskan ibadah daripada yang lainnya. Sesibuk apapun kita, bagaimanapun kondisi kita ketika mendengar seruan “hayya alas shalaah” maka kita akan meninggalkan kesibukan kita dan bergegas memenuhi panggilan-Nya. Dapat dikatakan bahwa hidup kita ini hanya menunggu waktu shalat, nah sambil menunggu waktu shalat kita isi dengan aktifitas di kantor, di pasar, di ladang, dan berbagai rutinitas kita di dunia. Jangan sampai rutinitas kita dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat. Banyak orang meniggalakan shalat dengan alasan sibuk, banyak tugas, lelah karena kerja, dsb. Ketika ditanya, “kenapa engkau tidak shalat?” dia menjawab, “aku lelah…..sekali, tadi banyak tugas di kantor. Allah kan maha tahu, kalo aku sangat lelah…” pernahkah kita beralasan seperti itu? Memang benar Allah Maha tahu segala sesuatu, namun kita jangan salah paham. keMahatahuan Allah bukan seperti kita, mungkin ketika kita berbicara dengan sesama kita, sering kita mengatakan, “kamu kan tahu kalo aku sedang banyak urusan, jadi tolong jangan ganggu aku ya?” ungkapan seperti ini adalah harapan agar orang memaklumi kita menolak sebuah ajakan ataupun perintah. Sedangkan kemahatahuan Allah meliputi segalanya, baik yang kita tampakkan maupun yang kita sembunyikan. Allah tahu apa yang terbetik dalam hati kita. Allah tahu jika kita hanya ingin mencari-cari alasan untuk meniggalkan kewajiban kita.

Telah kita pahami bersama bahwa hukum shalat lima waktu adalah fardu ‘ain, artinya setiap muslim yang sudah baligh wajib melaksanakan shalat lima waktu. Ia merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat juga merupakan tiang agama, ibarat dalam sebuah bangunan, jika tiangnya kuat maka bangunan tersebut akan kokoh, jika tiangnya rapuh maka robohlah bangunan tersebut. Begitulah shalat terhadap agama kita. Jika shalat kita baik maka agama kita akan kuat, namun jika shalat kita tinggalkan maka runtuhlah agama kita. Shalat juga merupakan sarana komunikasi kita dengan Allah SWT, tentu kita butuh komunikasi agar hubungan semakin baik. Dalam berhubungan dengan keluarga, saudara, tetangga dan masyarakat tentu penting sekali untuk saling berkomunikasi. Mustahil hubungan kita baik dengan sesama jika kita tidak pernah berkomunikasi. Sebaik apapun kita, ketika tidak pernah berkomunikasi dengan seseorang maka tidak akan ada keharmonisan. Demikian pula hubungan kita dengan Allah SWT. Bagaimana kita bisa dekat dengan-Nya jika tidak pernah berkomunikasi? Segera kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT melalui shalat.

Bagaimana agar kita tidak merasa berat untuk melaksanakan shalat? Setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan. Pertama, kita memahami arti tujuan hidup kita di dunia. Sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwa tujuan hidup kita adalah hanya untuk beribadah kepada Allah. Sehingga kita akan memprioritaskan ibadah daripada aktifitas yang lain. Kedua, kita jadikan shalat sebagai kebutuhan kita. Bukan hanya kewajiban, namun merupakan kebutuhan. Sebagaimana makan menjadi kebutuhan dalam hidup kita. Jika kebutuhan tersebut tidak kita penuhi, maka akan menyebabkan kerugian terhadap jasmani kita. Shalat merupakan kebutuhan rohani kita, jika kita tidak berikan kebutuhannya maka akan berdampak negatif dalam rohani kita. Yang ketiga, takut akan adzab Allah jika kita meninggalkan kewajiban shalat. Allah akan memasukkan orang yang meninggalkan shalat ke dalam neraka. Dalam surat Al-Mudatstsir ayat 42-43 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَاسَلَكَكُمْ فِي سَقَر. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat.”
Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari siksa Allah dalam neraka saqar. 

Mari kita terus berusaha sekuat mungkin untuk tidak meniggalkan shalat lima waktu. Semoga dari amalan shalat yang kita jaga akan menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga Allah SWT yang luasnya seluas langit dan bumi. amin

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

How to style text in Disqus comments:
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Hide Parser